Riset Transdisipliner Tentang Model Pengembangan Hutan Sagu Berbasis Masyarakat Lokal untuk Ketahanan Pangan dan Pemanfaatan Lahan Marginal di wilayah Pesisir

AgnesSensei.com — Isu terpenting dalam ketahanan pangan di Indonesia adalah keterbatasan luas lahan yang sesuai untuk tanaman pangan, sementara produksi sudah mencapai potensi tertingginya.

Di daerah bagian timur Indonesia tampaknya memiliki jawaban tersembunyi untuk masalah ketahanan pangan.

Tanaman sagu berasal dari Indonesia. Sulawesi dikenal dengan sistem semi-budidaya yang unik dalam produksi pangan.

Makalah ini akan menjelaskan pendekatan transdisipliner dalam mengembangkan model pengembangan tanaman sagu berbasis masyarakat lokal.

Model ini disusun berdasarkan temuan penelitian terkait karakteristik semi-budidaya tanaman sagu sebagai berikut:

(a) Luas sagu di Tana Luwu hanya 3.463,36 ha, sebagian besar lahannya telah dialihfungsikan menjadi tambak dan perkebunan;

(b) Hutan sagu semi-budidaya menghasilkan 24 ton sagu kering per tahun, empat kali lebih banyak dibandingkan padi di lahan kering;

(c) Metode penelitian transdisipliner memungkinkan kolaborasi triple helix antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah, dan …”

***

Transdisciplinary research on local community based sago forest development model for food security and marginal land utilization in the coastal area

Pengarang : DA Rampisela, R Sjahril, SA Lias, R Mulyadi; Tanggal terbit : 2018/5/1

Jurnal : IOP Conference Series: Earth and Environmental Science

Jilid : 157; Terbitan : 1; Halaman : 012065; Penerbit : IOP Publishing

Deskripsi :

The most important issue in food security in Indonesia is limited land area which suitable for food crops. While production already reached its highest potency. Eastern part of Indonesia seems to have hidden answer for the food security issues. Sago plant is origin from Indonesia. Sulawesi is known by its unique semi-cultivated system in food production. This paper will describe the transdisciplinary approach in developing a model of sago plant development based on local community. The model is derived based on the research findings related to characteristic of semi-cultivation of sago plant as follows:(a) Sago in Tana Luwu only 3463, 36 ha, most of the land already converted to fishpond, and plantation (b) Semi cultivated sago forest produce 24 tons dry sago/year, 4 times than paddy in dryland,(c) Transdisciplinary research method enables the triple helix collaboration of University, Industry and Government, and …

Selengkapnya di

https://scholar.google.co.id/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=5Y2XMycAAAAJ&citation_for_view=5Y2XMycAAAAJ:EUQCXRtRnyEC

Leave a Reply