
AgnesSensei.com — Runtuhnya dinding kaldera Gunung Bawakaraeng pada 26 Maret 2004 di Sulawesi Selatan merupakan salah satu gerakan massa terbesar dalam sejarah Indonesia.
Material yang runtuh, diperkirakan sekitar 232 juta m³, menutupi sepanjang 8 km bagian hulu Sungai Jeneberang.
Tujuan utama penelitian ini adalah mengevaluasi besarnya dampak terhadap perubahan daerah tangkapan air dan bagaimana dampak tersebut berkurang seiring waktu.
Sejumlah curah hujan yang sama menghasilkan debit yang lebih kecil setelah keruntuhan, dan puncak aliran yang biasanya terjadi pada bulan Januari kini ditemukan pada bulan Maret.
Sebelum keruntuhan, setiap jumlah curah hujan harian berkorelasi dengan nilai debit harian sebesar 0,6, namun pada tahun 2006 nilainya menurun menjadi 0,45.
Debit harian sebagian besar berupa aliran rendah (kurang dari 5 mm/hari), kecuali pada tahun keruntuhan (2004).
Setelah keruntuhan, aliran sedang terjadi lebih sering, sedangkan aliran tinggi (lebih dari 90 mm/hari) terjadi dengan frekuensi yang lebih jarang dan nilai yang lebih rendah.
Analisis hubungan kekeruhan dan debit di Bendungan Bili-bili yang terletak 31 km di hilir lokasi keruntuhan dapat digunakan untuk memahami habisnya sedimen dan potensi laju pemulihan daerah tangkapan air.
Laju kekeruhan maksimum Bendungan Bili-bili meningkat secara signifikan dari 407 Nephelometric Turbidity Units (NTU) menjadi 125.159 NTU setelah keruntuhan, dan respons kekeruhan terhadap debit berubah setelah kejadian tersebut.
Laju puncak kekeruhan biasanya turun lebih cepat daripada penurunan debit; namun setelah keruntuhan, kedua nilai tersebut turun sekitar 50% setiap hari.(*)
***
Changes in sediment discharge after the collapse of Mt. Bawakaraeng in south Sulawesi, Indonesia
Pengarang : Laurentia Dhanio, Takahisa Mizuyama, Ken’ichirou Kosugi, Agnes RAMPISELA
Tanggal terbit : 2008/11/15
Jurnal : Journal of the Japan Society of Erosion Control Engineering
Jilid : 61
Terbitan : 4
Halaman : 32-38
Penerbit : Japan Society of Erosion Control Engineering
Deskripsi :
The collapse of caldera walls of Mt. Bawakaraeng on 26th of March 2004 in South Sulawesi is one of the largest mass movements in the history of Indonesia. The collapsed material, calculated at approximately 232 million m3, covers 8 km of the upstream part of Jeneberang River. The main purpose of this research is to evaluate the magnitude of the impact on the change of basin and how the impact decreases over time. A given amount of rainfall produces less discharge after the collapse and peak flows which normally occurred in the months of January are now found in the months of March. Before the collapse, every daily amount of rainfall corresponds to 0.6 value of daily discharge, though in 2006, it decreased to 0.45. Daily discharges are mostly low flows (less than 5 mm/day) except in the year of the collapse (2004). After the collapse, medium flows occurred more frequently and high flows (flow of over 90 mm/day) occurred in less frequency and lower values. Analysis of turbidity and discharge relationship at Bili-bili Dam located 31 km downstream of the collapse may be applied to understand the sediment exhaustion and the basin’s potential rates of recovery. Bili-bili Dam’s maximum turbidity rate increased significantly from 407 Nephelometric Turbidity Units (NTU) to 125,159 NTU after the collapse and turbidity’s respond to discharge alters after the collapse. Peak turbidity rates normally fall faster than the discharge falling limb; nonetheless after the collapse, both values fall by approximately 50% daily.
Selengkapnya
https://www.jstage.jst.go.jp/article/sabo/61/4/61_32/_article/-char/ja/




