
Staf Pelangi Study Banding ke Jepang (2)
Oleh : Hajrah Yunus, Staf Pelangi
AgnesSensei.com —Sejak bergabung dengan Pelangi pada tahun 1999, dunia saya telah terhubung erat dengan Negeri Matahari Terbit, Jepang.
Sebagai fasilitator yang mengawal berbagai program dari Jepang, kisah-kisah tentang kemajuan teknologi, kedisiplinan sosial, dan etos kerja masyarakat Jepang menjadi santapan sehari-hari.
Pelangi sering kali menjadi tuan rumah bagi delegasi Jepang, yang kian memupuk harapan di dalam hati: kapan giliran kami yang berkunjung?
Maka, ketika tawaran istimewa itu datang langsung dari Ibu Agnes, Direktur kami, rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata.
Ini adalah saatnya melihat langsung, bukan hanya sekadar mendengar cerita. Namun, kejutan tak berhenti sampai di situ.
Uang vs. Pengalaman: Sebuah Pilihan yang Menguji
Di antara kami berempat yang akan diberangkatkan, sebuah pesan tak terduga datang dari salah seorang rekan.
“Hajrah,” ujar rekan saya itu, “Bisakah sampaikan ke Ibu, kalau saya jangan mi ke Jepang. Bagaimana kalau mentahnya mo (diuangkan saja) saya?”
“Mentahnya mo,” tentunya sebuah permintaan yang didasari kebutuhan mendesak dari rekan tersebut.
Saya pun memberanikan diri menyampaikan pesan ini saat Ibu Agnes, yang saat itu masih berada di Jepang, menelpon.
“Ibu, ini ada pesannya si A (inisial),” kata saya memulai, “bagaimana katanya kalau dia jangan mi ikut ke Jepang, diuangkan mi saja karena sedang membutuhkan.”
Jawaban Ibu Agnes sungguh singkat, padat, dan menohok, membuat saya terdiam kagum.
“Hajrah, kasi tahu ko itu Si A, Ibu tidak mau bagi-bagi uang. Ibu mau bagi-bagi kesempatan dan pengalaman. Mumpung Ibu saat ini ada di Jepang.”
Momen itu membuat saya tersadar. Ibu Agnes sedang memberikan pelajaran berharga tentang prioritas.
Setelah menyampaikan kembali pesan tegas itu kepada rekan saya, syukurlah ia mengerti. Dan akhirnya, pada tahun 2007, kami berempat pun berangkat untuk perjalanan selama sembilan hari.(Bersambung/*)
*) Pinrang, 23 Agustus 2025




