
Oleh : Dr Irfan Yahya MSi, Sosiolog Unhas
AgnesSensei.com — Pagi kemarin, semesta Tamalanrea tetiba kembali cerah setelah beberapa hari diguyur hujan lebat.
Kecerahannya membalur rasa syukur saya atas undangan langsung dari Prof. Agnes, koordinator Program SUIJI Unhas, untuk turut hadir pada acara ujian promosi doktor pak Koichi Ohashi.
Ujian promosi berlansung khidmat, penuh nuansa akademik yang hangat dan berkelas, terlebih dengan hadirnya penguji eksternal, Prof. Katsutoshi Sakurai, mantan Rektor Kochi University, kini Vice President for Special Missions di Kyoto Women’s University.
Beliau, bersama Prof. Agnes yang juga hadir sebagai penguji internal, dan Prof. Osozawa, adalah pendiri program SUIJI.
Presentasi pak Koichi sebagai promovendus berlangsung mulus. Dengan bahasa “gado-gado” tiga dari lima bahasa yang ia kuasai: Jepang–Inggris–Indonesia, mengisyaratkan sebuah pesan harmoni khas lintas-budaya.
Di balik gaya bahasa “gado-gado” itu, tersaji cita rasa khas bagaimana program SUIJI menjadi model inovasi sosial bottom-up, menjahit kalangan universitas, komunitas lokal, diplomat, berkolaborasi di era Society 5.0 dalam satu anyaman inklusif.
Apa yang ditulis dalam disertasi beliau bukan hanya analisis akademik semata tapi juga menjadi potret masa depan kerja sama internasional yang lebih membumi dan berdampak.
Ketika ketua sidang mempersilakan pak Koichi menyampaikan sepatah kata, di penghujung kata suaranya tiba-tiba parau tesendak.
Lalu pecahlah tangis itu, tangis jujur dari seorang pembelajar sejati. Isaknya menggema lewat pengeras suara, memantul di selah dinding-dinding ball room, menetes ke relung hati semua yang hadir.
Sontak tetamu yang hadir larut dibuatnya dan memberi tepuk tangan sebagai wujud apresiasi atas perjalanan panjang yang terpantul dalam air mata itu.
Saya juga ikut larut. Sebagai seseorang yang pernah merasakan berdiri di mimbar yang sama sebagai promovendus, tentu tahu persis rasa haru yang menyergap ketika seluruh jerih payah, munajat doa, lelah batin dalam menulis di malam-malam sunyi itu dipadatkan dalam satu kata:
Lulus dengan nilai Cumlaude.
Demikianlah pada diri pak Koichi, dengan seabrek amanah kenegaraan yang ia emban, lintas negara, lintas benua, rasa itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih kompleks.
Semangat pembelajar yang tak pernah padam, dan dedikasi sebagai diplomat ulung untuk memadukan ilmu dengan pelayanan sosial bukanlah hal sederha.
Tangisnya menjadi pengingat bahwa pembelajar sejati adalah mereka yang tak pernah selesai menjadi murid.
Tangisnya adalah kesaksian bahwa perjalanan intelektual adalah perjalanan batin yang paling dalam.
Dan pada titik kesadaran itu, semua kita kembali menjadi murid. Murid kehidupan. Murid kemanusiaan.
Murid yang terus mencari makna dalam setiap derap langkah pengabdian.Wallahualam.




