Sepotong Pisang Goreng dan Visi dari Meja Perpustakaan

Catatan Tribute Bersama Prof Agnes Rampisela (1)

Oleh : Dewi Sri, Staf Konsulat Jepang di Makassar

Nongkrong, AgnesSensei.com — Tahun 1994 adalah gerbang awal yang mempertemukan saya dengan sosok luar biasa, Sensei Agnes. Kala itu, saya baru saja mengemban amanah sebagai Ketua Pengurus Perpustakaan Jurusan Ilmu Tanah.

Di sana, duduk sebagai Sekretaris Jurusan sekaligus Pembina kami, adalah Ibu Dr. Ir. Dorothea Agnes Rampisela, M.Sc.

Jujur saja, awalnya ada sedikit rasa gentar di hati. Beliau baru saja kembali dari Jepang—negeri yang kita kenal dengan kedisiplinan besi dan ketegasan yang kaku.

Saya membayangkan akan berhadapan dengan sosok yang dingin dan formal. Namun, prasangka itu luruh, seiring dengan aroma pisang goreng dan sambal yang seringkali menemani diskusi kami.

Membangun Mimpi dari Rak-Rak Buku

Di ruangan kerjanya, setiap kali kami duduk bersama untuk berkonsultasi, beliau tidak pernah lupa memesan cemilan favoritnya itu dari kantin jurusan.

Di sela kunyahan pisang goreng yang hangat, visi kami bertemu. Kami memiliki mimpi yang sama: menyulap perpustakaan jurusan yang mungkin dulunya sunyi dan berdebu, menjadi oase bagi para mahasiswa.

Kami berdiskusi panjang tentang bagaimana melengkapi literatur, bagaimana menarik minat kawan-kawan mahasiswa agar betah mencari referensi, hingga akhirnya perpustakaan itu benar-benar menjadi tempat favorit.

Di bawah bimbingan beliau yang ternyata sangat cair dan hangat, ide-ide mengalir seperti air. Setahun berlalu, dan cita-cita itu terwujud.

Perpustakaan kami berubah menjadi ruang yang nyaman, sebuah rumah bagi ilmu pengetahuan.

Kenapa Semua Memilih Orang Pintar?

Kedekatan kami tidak berhenti saat masa kepengurusan saya usai. Bahkan saat tiba waktunya saya menyusun skripsi, sebuah momen berkesan tertanam di ingatan.

Ketika saya menghadap beliau untuk meminta tanda tangan persetujuan pembimbing—saat itu saya memilih Dr. Sikstu Gusli, M.Sc sebagai Pembimbing I—beliau melontarkan pertanyaan yang membuat saya tersipu sekaligus merasa bersalah:

“Kenapa semua memilih orang pintar?” seloroh beliau dengan nada bercanda yang khas. Padahal, semua mahasiswa tahu betapa baiknya hati beliau.

Di kalangan senior, beliau dikenal dengan prinsipnya yang memanusiakan mahasiswa: “Kalau bisa dipercepat selesai, kenapa harus dipersulit?” Sebuah filosofi yang sangat menyejukkan di tengah hiruk-pikuk dunia akademik yang terkadang kaku.

Pintu Baru yang Terbuka

Momen yang paling mengubah hidup saya terjadi setelah saya meraih gelar sarjana. Saya datang menghadap untuk berpamitan, berniat pulang kampung sejenak sebelum kembali ke Makassar untuk mengadu nasib.

Namun, rencana Tuhan berkata lain melalui lisan beliau.

“Dewi… mau bergabung di LSM saya? Saya baru saja mendirikan sebuah LSM. Ayo kita sama-sama mengembangkan ini!” katanya.

Beliau menawarkan sebuah jalan setapak untuk saya belajar. Beliau jujur bahwa tak ada janji gaji tinggi di sana, namun ada ruang luas untuk belajar, mencari pengalaman, dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat desa.

Tanpa keraguan sedikit pun, saya mengiyakan. Bagi saya yang masih “hijau”, ajakan itu bukan sekadar tawaran kerja, melainkan kesempatan emas untuk berguru langsung pada sang maestro di lapangan.

Dari meja perpustakaan hingga ke pelosok desa, perjalanan saya bersama Ibu Agnes adalah rangkaian pelajaran tentang dedikasi, kerendahan hati, dan kasih sayang seorang guru kepada muridnya.(bersambung/*)

Leave a Reply